Hari Anti Narkoba Internasional: Pencegahan Dimulai dari Keluarga (Oleh: Diki Hermansyah, Ketua Bidang KOMDIGI DPD PKS Bangka)

Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) diperingati setiap tanggal 26 Juni di seluruh dunia. Momen tahunan ini digagas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) sebagai wujud keprihatinan global terhadap ancaman nyata narkotika dan obat-obatan terlarang. Tujuan utama dari peringatan HANI adalah sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas, memperkuat aksi, serta menjalin kerja sama demi mewujudkan tatanan dunia yang bebas dari penyalahgunaan narkoba.

​Namun, peperangan melawan narkoba tidak akan pernah efektif jika hanya mengandalkan penegakan hukum semata. Di sinilah pentingnya peran keluarga sebagai benteng pertahanan pertama dan utama dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Sebelum seorang anak bersentuhan dengan dunia luar, keluargalah yang membentuk fondasi karakter dan ketahanan mental mereka.

​Mengapa Narkoba Menjadi Ancaman Nyata?

​Narkoba bukan sekadar zat terlarang, melainkan penghancur masa depan. Secara fisik, konsumsi zat adiktif merusak sistem saraf pusat, memicu kerusakan organ vital seperti jantung, paru-paru, dan hati, hingga menyebabkan overdosis yang berujung kematian. Tidak kalah mengerikan, dampak mentalnya meliputi gangguan kecemasan, depresi parah, paranoia, hingga psikosis atau gangguan jiwa permanen.

​Ketika kesehatan fisik dan mental telah terganggu, otomatis aspek kehidupan lainnya akan runtuh. Di ranah pendidikan, anak yang terjerat narkoba akan mengalami penurunan prestasi akademis yang drastis, sering bolos, hingga putus sekolah. Di dunia kerja, produktivitas akan hancur dan hilangnya kepercayaan yang berujung pada pengangguran. Pada akhirnya, narkoba merampas masa depan dan cita-cita yang seharusnya bisa diraih oleh generasi muda.

​Gambaran umum mengenai penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja saat ini sangat memprihatinkan. Remaja berada pada fase pencarian jati diri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan sangat rentan terhadap tekanan teman sebaya (peer pressure). Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna narkoba memulai mencoba zat terlarang ini pada usia remaja, sering kali berawal dari rokok atau alkohol, lalu meningkat ke psikotropika karena menganggapnya sebagai tren atau pelarian dari stres.

​Peran Krusial Orang Tua di Rumah

​Untuk menangkal ancaman tersebut, orang tua memegang kendali utama melalui pendidikan dan pengawasan yang seimbang. Langkah awal yang paling mendasar adalah membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak. Anak harus merasa nyaman untuk menceritakan masalah, ketakutan, maupun pengalaman mereka tanpa takut dihakimi atau langsung dimarahi.

​Selain komunikasi, penanaman nilai-nilai agama, moral, dan etika sejak dini menjadi petunjuk batin bagi anak untuk membedakan hal yang baik dan buruk. Nilai-nilai inilah yang akan tetap melekat pada diri anak meskipun mereka sedang berada jauh dari jangkauan orang tua. Fondasi ini diperkuat dengan membangun hubungan keluarga yang harmonis dan penuh perhatian, sehingga anak merasakan nyaman di rumah dan tidak perlu mencari pengakuan atau pelarian di luar.

​Sebagai bentuk pengawasan, orang tua wajib mengenali lingkungan pergaulan dan aktivitas anak sehari-hari. Mengetahui dengan siapa anak berteman dan ke mana mereka pergi bukan berarti mengekang, melainkan bentuk kepedulian. Orang tua juga harus melatih anak untuk berani berkata “tidak” dan menolak ajakan mencoba narkoba dari siapapun.

​Mengalihkan Energi ke Kegiatan Positif

​Salah satu cara efektif mencegah anak melirik narkoba adalah dengan mengisi waktu mereka dengan aktivitas yang bermanfaat. Orang tua harus mendorong anak untuk mengikuti kegiatan positif, seperti olahraga, seni, atau organisasi kepemudaan. Kegiatan ini tidak hanya menyalurkan energi mereka secara sehat, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan memperluas jaringan pertemanan yang sehat.

​Lebih dari sekadar memberi nasihat, orang tua harus mampu menjadi teladan yang baik dalam keluarga. Perilaku orang tua yang sehat, tidak menggunakan zat adiktif, dan bijak dalam mengatasi stres akan dicontoh oleh anak. Semua ini disempurnakan dengan selalu meluangkan waktu berkualitas (quality time) bersama keluarga, seperti makan bersama atau berekreasi, guna mempererat ikatan emosional.

​Menghadapi Tantangan di Era Digital

​Di era modern saat ini, tantangan pencegahan narkoba semakin kompleks akibat kemudahan akses informasi dan kuatnya pengaruh media sosial. Melalui internet, transaksi narkoba jenis baru kini dikemas secara daring, bahkan disamarkan dalam bentuk jajanan atau tren gaya hidup tertentu yang menipu mata remaja.​

Oleh karena itu, literasi digital dan pengawasan penggunaan internet oleh anak menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Orang tua dituntut untuk melek teknologi, memantau situs apa saja yang diakses anak, dan memberikan edukasi mengenai bahaya ruang siber. Upaya keluarga dalam membimbing anak menghadapi pengaruh negatif lingkungan digital sangat krusial, agar anak mampu memilah informasi dan tidak mudah terbujuk oleh konten-konten yang menormalisasi penggunaan zat terlarang.

​Sinergi dan Langkah Bersama

​Meskipun keluarga adalah benteng utama, benteng ini akan lebih kokoh jika ditopang oleh struktur di sekitarnya. Diperlukan sinergi yang kuat antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Pihak sekolah dan pemerintah harus terus menggalakkan edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba secara berkelanjutan dan menarik bagi generasi muda. Di sisi lain, masyarakat harus peka terhadap lingkungan sekitar dan menciptakan ekosistem yang aman.

​Bagi mereka yang sudah telanjur menjadi korban penyalahgunaan narkoba, pendekatan yang diambil tidak boleh bersifat mengucilkan. Dukungan penuh terhadap program rehabilitasi sangat penting. Korban harus dipandang sebagai orang sakit yang butuh disembuhkan, bukan pelaku kriminal yang harus dijauhi, agar mereka memiliki kesempatan kedua untuk menata hidupnya kembali.

​​Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional kembali menegaskan pesan mendasar: pencegahan narkoba harus dimulai dari lingkungan terkecil dan paling intim, yaitu keluarga. Keluarga adalah tempat pertama karakter anak dibentuk dan tempat terakhir mereka pulang untuk berlindung.

​Melalui momen HANI ini, mari kita serukan ajakan kepada seluruh orang tua untuk meningkatkan kepedulian, memperketat pengawasan, dan memperbanyak kasih sayang terhadap anak-anak kita. Dengan benteng keluarga yang kokoh, kita optimistis dapat mewujudkan harapan besar bangsa: terciptanya generasi muda yang sehat fisik dan mentalnya, produktif karyanya, serta bersih dan bebas dari narkoba. Selamat Hari Anti Narkoba Internasional!*

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *