Dr. Zarril Khifarri: Menjadi PNS di RSUD Tidak Semenantang Menjadi Politisi

Bagi sebagian orang, menjadi Pegawai Negeri Sipil – terlebih sebagai dokter di rumah sakit daerah – adalah puncak kestabilan karier. Status terjamin, penghasilan tetap, dan tentu penghormatan sosial. Namun bagi Zarril Khifarri, yang akrab disapa Bang Zarr, kenyamanan bukanlah tujuan akhir pengabdian. Ia justru memilih jalan yang lebih terjal: meninggalkan status PNS dokter di RSUD Sungailiat demi mengabdikan diri di dunia politik.

Bang Zarr lahir di Sungailiat, 29 November 1970. Ia tumbuh dan besar di lingkungan masyarakat Bangka, yang membentuk kepekaan sosialnya sejak dini. Ketertarikannya pada dunia medis membawanya menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, hingga meraih gelar dokter umum. Profesi ini ia jalani dengan sepenuh hati, tidak sekadar sebagai pekerjaan, tetapi sebagai ladang pengabdian.

Sebagai dokter, Bang Zarr dikenal dekat dengan pasien dan masyarakat. Ia memahami bahwa sakit bukan hanya soal fisik, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan kebijakan publik. Pengalaman panjangnya sebagai dokter – serta keterlibatannya di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bangka sejak 1999 hingga sekarang – membuka matanya bahwa banyak persoalan kesehatan tidak bisa diselesaikan hanya di ruang praktik. Ada masalah sistem, regulasi, dan keberpihakan negara yang harus diperjuangkan.

Dari kesadaran itulah lahir keputusan besar dalam hidupnya: mengundurkan diri sebagai PNS. Sebuah langkah yang tidak mudah dan penuh risiko. Dunia politik, dengan segala dinamika, konflik kepentingan, dan tekanan publik, jelas jauh lebih menantang dibandingkan ruang kerja rumah sakit. Namun Bang Zarr meyakini, di sanalah ruang pengabdian bisa diperluas – dari menyembuhkan satu per satu pasien, menjadi memperjuangkan kebijakan untuk ribuan masyarakat.

Kepercayaan publik pun datang. Ia terpilih sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bangka periode 2019–2024, lalu melanjutkan amanah sebagai Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung periode 2025–sekarang. Di parlemen, Bang Zarr membawa perspektif dokter: rasional, berbasis data, dan berorientasi pada kemaslahatan. Isu kesehatan, pendidikan, keluarga, dan pelayanan publik menjadi perhatian seriusnya.
Di ranah kepartaian, Bang Zarr juga aktif membangun gerakan dan kaderisasi. Ia dipercaya di Bidang BP3 DPD PKS Bangka (2020–2025), kemudian melanjutkan pengabdian di Bidang Komunikasi dan Digital (Komdigi) DPW PKS Bangka Belitung (2025–sekarang). Baginya, politik bukan sekadar kekuasaan, tetapi sarana dakwah dan pelayanan sosial yang harus dikelola secara profesional dan berintegritas.

Di balik sosok politisi dan dokter itu, Bang Zarr adalah seorang ayah dan kepala keluarga yang menanamkan nilai pendidikan, keimanan, dan kemandirian. Bersama istrinya, Kurnia Santi, S.T.P., yang akrab disapa Kak Santi – perempuan kelahiran Palembang, 19 Maret 1977, lulusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sriwijaya – ia membangun keluarga yang aktif berkontribusi bagi masyarakat. Kak Santi saat ini mengemban amanah sebagai Direktur Klinik 2M dr. Zarril serta Kepala Bidang Perempuan dan Keluarga DPD PKS (2020–sekarang).

Anak-anak mereka tumbuh dalam semangat keilmuan dan pengabdian:

– Syifa Qurrota’aini Al Ghifari, S.Psi., profesional penanganan anak autis
– Tadzkia Salsabila Al Ghifari, S.Pd., wiraswasta
– Muti’ah Muthmainnah Al Ghifari, mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Batam
– Fahima ‘Inaayah Al Ghifari, mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Sriwijaya
– Faqih Wafi Al Ghifari, mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo, Mesir
– Zulfa Nafi’ah Al Ghifari, pelajar SMAIT Darul Quran Mulia, Bogor

Bagi Bang Zarr, menjadi dokter PNS adalah pengabdian yang mulia, tetapi menjadi politisi adalah ujian keberanian dan keteguhan prinsip. Ia membuktikan bahwa pengabdian sejati terkadang menuntut seseorang untuk melepaskan kenyamanan, demi perjuangan yang lebih luas dan berdampak jangka panjang.*

(KOMDIGI DPD PKS Bangka)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *