Bangka, 11 April 2026
Perjalanan ini tidak hanya sekadar rekreasi semata ke tempat objek wisata senagaimana umumnya, melainkan sebuah pengalaman yang memperkaya jiwa dan mempererat kebersamaan. Rihlatu Sa’idah menuju Pulau Nangka menjadi momen berharga yang dimulai sejak dini hari, dengan semangat yang telah menyala bahkan sebelum matahari terbit.
Jika dihitung dari jarak terjauh, para peserta rihlah menempuh perjalanan kurang lebih sejauh 200 kilometer. Salah satu peserta rombongan memulai perjalanan dari Kecamatan Belinyu pada pukul 04.00 pagi. Dalam suasana yang masih gelap dan udara yang sejuk diiringi rintik hujan, langkah awal diiringi harapan akan pengalaman berharga yang tidak ada di bangku sekolah apalagi buku-buku panduan wisata. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya rombongan tiba di Pulau Nangka, tepatnya di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Sungaiselan, pada pukul 10.30.
Kegiatan rihlah ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari tiga struktur, yaitu DPW PKS Bangka Belitung, DPD PKS Pangkal Pinang, dan DPD PKS Bangka Induk. Kebersamaan lintas struktur ini menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat, sekaligus memperkuat ukhuwah di antara para peserta. Rihlah ini merupakan bagian dari program Unit Pembinaan Anggota (UPA), khususnya binaan UPA Bapak Kurtis Ali. Dalam konsepnya, UPA tidak hanya berfokus pada kajian keislaman semata, tetapi juga mendorong kegiatan yang menyentuh aspek fisik, mental, dan sosial. Idealnya, dalam satu bulan terdapat satu kegiatan berupa rihlah atau aktivitas serupa sebagai sarana penyegaran sekaligus pembinaan.
Di Pulau Nangka, para peserta tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga ditempa secara mental. Mereka berjalan kaki mengelilingi bahkan membelah pulau. Kegiatan ini menjadi latihan ketahanan fisik sekaligus melatih kekompakan dan daya juang.
Selain itu, rihlah ini juga menjadi sarana pembelajaran untuk mencintai alam. Para peserta diajak untuk menjaga lingkungan, tidak merusak, dan menghargai setiap keindahan. Kesadaran ini penting, karena ketika alam dijaga dengan baik, ia akan memberikan kekayaan yang melimpah sebagai bentuk anugerah Tuhan kepada makhluk-Nya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat para peserta melakukan aktivitas menjaring (muket) ikan. Dimulai dari pukul 13.00 hingga 17.30, usaha bersama ini membuahkan hasil sekitar 30 kilogram ikan dari berbagai jenis. Hasil tangkapan tersebut bukan hanya menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga simbol kerja sama dan kebersamaan yang solid.
Rihlatu Sa’idah di Pulau Nangka bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati dan pikiran. Ia mengajarkan arti kebersamaan dan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. Sebuah perjalanan yang meninggalkan jejak makna mendalam.
(KOMDIGI PKS BANGKA)
Perjalanan ini tidak hanya sekadar rekreasi semata ke tempat objek wisata senagaimana umumnya, melainkan sebuah pengalaman yang memperkaya jiwa dan mempererat kebersamaan. Rihlatu Sa’idah menuju Pulau Nangka menjadi momen berharga yang dimulai sejak dini hari, dengan semangat yang telah menyala bahkan sebelum matahari terbit.
Jika dihitung dari jarak terjauh, para peserta rihlah menempuh perjalanan kurang lebih sejauh 200 kilometer. Salah satu peserta rombongan memulai perjalanan dari Kecamatan Belinyu pada pukul 04.00 pagi. Dalam suasana yang masih gelap dan udara yang sejuk diiringi rintik hujan, langkah awal diiringi harapan akan pengalaman berharga yang tidak ada di bangku sekolah apalagi buku-buku panduan wisata. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya rombongan tiba di Pulau Nangka, tepatnya di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Sungaiselan, pada pukul 10.30.
Kegiatan rihlah ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari tiga struktur, yaitu DPW PKS Bangka Belitung, DPD PKS Pangkal Pinang, dan DPD PKS Bangka Induk. Kebersamaan lintas struktur ini menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat, sekaligus memperkuat ukhuwah di antara para peserta. Rihlah ini merupakan bagian dari program Unit Pembinaan Anggota (UPA), khususnya binaan UPA Bapak Kurtis Ali. Dalam konsepnya, UPA tidak hanya berfokus pada kajian keislaman semata, tetapi juga mendorong kegiatan yang menyentuh aspek fisik, mental, dan sosial. Idealnya, dalam satu bulan terdapat satu kegiatan berupa rihlah atau aktivitas serupa sebagai sarana penyegaran sekaligus pembinaan.
Di Pulau Nangka, para peserta tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga ditempa secara mental. Mereka berjalan kaki mengelilingi bahkan membelah pulau. Kegiatan ini menjadi latihan ketahanan fisik sekaligus melatih kekompakan dan daya juang.
Selain itu, rihlah ini juga menjadi sarana pembelajaran untuk mencintai alam. Para peserta diajak untuk menjaga lingkungan, tidak merusak, dan menghargai setiap keindahan. Kesadaran ini penting, karena ketika alam dijaga dengan baik, ia akan memberikan kekayaan yang melimpah sebagai bentuk anugerah Tuhan kepada makhluk-Nya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat para peserta melakukan aktivitas menjaring (muket) ikan. Dimulai dari pukul 13.00 hingga 17.30, usaha bersama ini membuahkan hasil sekitar 30 kilogram ikan dari berbagai jenis. Hasil tangkapan tersebut bukan hanya menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga simbol kerja sama dan kebersamaan yang solid.
Rihlatu Sa’idah di Pulau Nangka bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati dan pikiran. Ia mengajarkan arti kebersamaan dan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. Sebuah perjalanan yang meninggalkan jejak makna mendalam.
(KOMDIGI PKS BANGKA)



